Pengakuan pelaku perampokan dan percobaan pembunuhan terhadap Lurah
Penataban Banyuwangi berbuntut panjang. Terutama, soal pernyataan bahwa
uang yang dirampok disebut untuk memuluskan promosi Lurah Penataban.
Namun, sebelum uang sampai ke pihak yang menjajikan, sudah dirampok.
Pemkab Banyuwangi merespons pengakuan sepihak
dari pelaku bernama Agus Siswanto itu. Sekretaris Daerah Banyuwangi
Djajat Sudrajat menegaskan manajemen birokrasi tidak menerima hal
seperti itu. Sebab, manajemen birokrasi di Banyuwangi dibangun berbasis
prestasi.
’’Saya tegaskan sekali lagi kepada seluruh
jajaran aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat, jangan percaya bila
ada orang yang mengatakan bisa membantu promosi jabatan di Banyuwangi.
Anda akan kecewa karena itu penipuan,” tegasnya.
Meski demikian, Djajat mengatakan kalau tim
Inspektorat sebagai pengawas internal sedang bergerak melakukan
penelusuran. Pengakuan sepihak dari tersangka kasus percobaan pembunuhan
dan perampokan tersebut akan ditelusuri kebenarannya.
”Sebenarnya garisnya jelas, tidak ada promosi
jabatan berdasarkan kompensasi tertentu. Jika ada oknum ASN ikut
menjanjikan sesuatu, akan langsung ditindak sesuai disiplin ASN.
Sanksinya bisa pidana. Silakan laporkan,” tegas Djajat.
Seperti diberitakan, Lurah Penataban Banyuwangi
Wilujeng Esti mengalami percobaan pembunuhan dan perampokan oleh Agus
Siswanto. Agus sebenarnya merupakan teman korban sendiri. Menurut
pengakuan Agus, Wilujeng akan mengantarkan uang ke seorang tokoh
masyarakat yang menjanjikan bisa membantu promosi jabatan.
Namun, di tengah jalan, Agus yang menemani
Wilujeng mencoba membunuh sang lurah dan mengambil uang itu. Agus kini
telah ditetapkan sebagai tersangka. Pelaku merupakan seorang residivis
yang pernah divonis bersalah karena kasus penipuan pada 2015.
Djajat menambahkan, dari pengakuan sepihak
tersebut, sebaiknya semua mengambil pelajaran bahwa tak akan mungkin
bisa promosi jabatan dilakukan berdasarkan kompensasi tertentu, apalagi
sampai mencatut nama tokoh masyarakat.
”Jadi jangan tertipu. Ini kan ada tokoh
masyarakat, dicatut namanya oleh seseorang, lalu nama tokoh itu dijual
ke lurah. Ya pasti tidak akan bisa karena birokrasi ini manajemen
berbasis prestasi,” ujar Djajat.
Salah satu contoh konkrit manajemen berbasis
prestasi itu, sambung Djajat, dilakukan dengan mempercayakan sejumlah
ASN muda berprestasi untuk memegang jabatan penting. Misalnya, pentolan
Dinas Pariwisata yang berusia muda diberi kepercayaan penuh karena
berhasil membangun wisata dengan sangat baik hingga level internasional.
Demikian pula ASN tergolong muda menjadi pentolan
Dinas Perhubungan karena bekerja keras mewujudkan beragam rute
penerbangan dari Jakarta, Surabaya, dan kini disiapkan rute
internasional. Di Bappeda, geraknya didominasi anak muda yang melahirkan
sistem e-government dan e-planning yang menyabet penghargaan Bappenas.
Di Dinas Pekerjaan Umum, sejumlah kepala bidangnya berusia muda dengan
target pengerjaan infastruktur yang terukur setiap tahunnya.
”Masih banyak contoh promosi ASN yang memang
basisnya kinerja. Meski dia muda, diberi kepercayaan penuh. Syaratnya
cuma dua, yaitu mampu dan mau bekerja,” pungkas Djajat.
Sumber: JawaPos
Sumber: JawaPos
